Tantangan Ilyas Akbar Almadani, Pengalaman dan Pamor Sang Bapak

 ?

Ilyas Akbar Almadani menjadi pemimpin partai politik paling muda di Karanganyar usai terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah DPD II Partai Golkar Karanganyar yang digelar pada Senin, 22 Februari 2021.

Putra tunggal Bupati Karanganyar, Juliyatmono yang juga mantan Ketua DPD II Partai Golkar Karanganyar tersebut menghadapi sejumlah tantangan di masa depan. Paling tidak sampai Pilkada Karanganyar 2024 mendatang. Tantangan tersebut adalah target meraih kursi DPRD secara dominan, mengatasi friksi internal partai.

Tak kalah dari dua hal itu, Ilyas juga dihadapkan pada figur ayahnya, Juliyatmono, ketua Golkar Karanganyar yang telah ia gantikan. Orang sudah pasti melihat sejauh mana politisi berusia 22 tahun tersebut mampu lepas dari bayang-bayang bapaknya itu.

Betapa tidak, Juliyatmono merupakan figur politik penuh dengan pengalaman sejak puluhan tahun lamanya. Jabatan legislatif maupun eksekutif sudah dan masih disandangnya.



                        Ilyas Akbar Almadani. 

Demikian pula dengan jabatan politiknya saat ini yang menjadi Sekretaris DPD I Partai Golkar Jawa Tengah, tentu menjadikan orang nomor 1 di Kabupaten Karanganyar itu sebagai sosok yang komplit.

Terkait pamor bapaknya itu, Ilyas bukannya tidak menyadari hal itu. Ia pun sepertinya sudah tahu apa yang akan dikatakan apabila ditanya soal itu.

‘’Itu merupakan bagian dari ikatan darah. Terkait terbayang2 atau ndak, saya kira ke depan terpenting mengimplementasikan program partai untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.’’

Itu jawaban yang disampaikan Ilyas saat ditanya awak media usai menjadi ketua terpilih pada Musda Golkar Karanganyar di Hotel Allana, Colomadu,Karanganyar, beberapa waktu lalu.

 

Ilyas bahkan mengatakan, ia tidak tidak perlu lepas dari pamor bapaknya mengingat apa yang sudah dicapai bapaknya itu dalam berpartai menjadi bagian dari sejarah Golkar di Karanganyar.

‘’Tidak perlu. karena itu bagian unsur yang menjadi hal sejarah Golkar di daerah Karanganyar.’’

Bagaimana jika ada yang membanding-bandingkannya dengan bapaknya

Dengan lugas Ilyas mengatakan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia tidak ingin menjadikan capaian bapaknya itu sebagai beban dirinya. Tapi diharapkannya menjadi spirit untuk berjuang.

‘’Ngga masalah, tidak menjadi beban saya, tapi jadi spirit karena beliau tokoh, bupati karanganyar 2 periode, spirit beliau sesuai pahlawan nasional RM Said.’’

 

Wawancara ‘’jebakan’’ itu berhasil diatasi oleh Ilyas dengan cukup baik. Ia pun bisa meninggalkan awak media dengan santai.

‘’Wong lagi umur 22 tahun. Tapi luwih pinter soko bapak e,’’ kata ibunda Ilyas, Siti Chomsiyah yang mendampingi anaknya saat diwawancarai.

 

Mengenai ‘’friksi internal’’ -paling tidak itu yang dikatakan awak media - partai yang muncul karena tidak munculnya beberapa anggota fraksi Golkar di Musda, Ilyas kembali bisa berkelit.

‘’Apapun yang jadi mandat organisasi kita akan tetap jalankan sebagai kader kita mesti jalankan apa yang diinginkan partai kedepan menghadapi Pemilu.’’

Ilyas mengatakan akan membahas ‘’friksi internal’’ pada rapat formatur.  Yang penting, kata Ilyas adalah menyejahterakan masyarakat dan Pilkada 2024 tetap menang.

Sayang. Ilyas seperti menerima pancingan awak media dengan kata-kata friksi internal itu. Tidak ada ucapan keberatan dari kata-kata friksi internal yang dibuat awak media itu yang disampaikan Ilyas.

Bisa ditebak, Ilyas memang sudah menyadari ada masalah internal di partai yang akan ia pimpin nanti.

Namun dengan mengatakan, akan membawa masalah internal itu ke rapat formatur, memperlihatkan bahwa Ilyas sudah tahu apa yang akan dilakukannya untuk mengatasi problem partainya.

Seperti apa yang disampaikan ibundanya, Siti Chomsiyah usai anak tersayangnya itu selesai diwawancarai awak media.

’Dek e luwih pinter soko pak-e. Umure lagi 22,’’ ujar anggota DPRD Karanganyar tersebut. –joe.


courtesy of Lingkar Jateng/lingkar.co

Comments